Ke Gunungsirah: Hiking atau Ziarah?

Sudah lama saya nggak nulis di blog ini, padahal banyak cerita yang ingin saya tuliskan, namun entahlah, sepertinya kegiatan - kegitan saya akhir - akhir ini berasa kurang menarik.

Setelah dua bulan berlalu, baru terbit lagi motivasi untuk menulis, tidak peduli cerita selanjutnya di blog ini akan menarik atau tidak, yang penting menulis sajalah, biar nggak mubazir blog ini.

Hari Sabtu tanggal 18 Juli kemarin saya berkesempatan untuk berziarah atau hiking, entah dua kata itu mana yang lebih tepat untuk saya tuliskan, sebenarnya saya tidak berniat untuk berziarah tapi lokasi yang akan saya tempuh memang sebuah makam, konon itu makam leluhur kami, dan untuk bisa sampai ke tempat tersebut butuh mendaki selama satu jam karena berada di ketinggian 1080 MDPL.

Kegiatan ini sebenarnya sih acara tahunan yang diselenggarakan oleh beberapa warga masyarakat Desa Cilimus, biasanya diadakan bertepatan dengan bulan Muharram, dengan tujuan utama yakni napak tilas dan berziarah ke makam leluhur kami yang bernama Ki Buyut Marmagati, saya tidak akan menuliskan panjang lebar mengenai sejarahnya, hanya memberikan sedikit penjelasan supaya tulisan ini nyambung.

Bahwasannya Ki Buyut Marmagati adalah seorang tokoh dari Cilimus yang konon menurut cerita mengasingkan diri atau entah diasingkan ke sebuah desa di Kecamatan Darma bernama Desa Gunungsirah, hingga akhir hayatnya dan dimakamkan disana bersama istri dan seorang anak buahnya.

Kami berangkat menggunakan empat mobil plus satu mobil pick up, berisi kurang lebih 50 orang, terdiri dari anak - anak madrasah beserta ustadz, ustadzah dan para jama'ah ooohhh jama'ah (nada ustadz Maulana).

Perjalanan dari tempat kami ke Desa Gunungsirah menempuh waktu 1 jam 20 menit menggunakan mobil, tidak ada kendaraan umum yang langsung menuju ke arah sana, rute yang ditempuh cukup mudah, menyusuri ruas jalan utama Kuningan - Ciamis yang berkelok aduhai menuju Kecamatan Darma, lalu belok kanan menyusuri jalan desa.

Jalan desa yang menuju Gunungsirah lumayan menanjak, saking curamnya mobil rombongan kami yang paling depan tidak kuat menanjak dan berhenti mendadak ditengah jalan, melihat itu kami yang berada di mobil belakangnya berhamburan keluar untuk menahan mobil, jaga - jaga khawatir mobilnya akan mundur lagi kebelakang. Alhamdulillah setelah beberapa detik mobil dapat menajak kembali.

Desa Gunungsirah berada di sebelah barat daya Kota Kuningan, berbatasan langsung dengan Taman Nasional Gunung Ciremai, kawasan permukimannya hanya 6% dari 300an hektar total seluruh wilayahnya yang kebanyakan berupa sawah dan hutan, sehingga di desa ini sebagian besar masyrakatnya berprofesi sebagai petani atau berladang.

Kami membagi barang bawaan didalam boks plastik yang berisi berbagai macam makanan, tiga buah kastrol, dua dus air minum dan beberapa kresek besar yang entah berisi apa, lebih nampak seperti hendak perang gerilya daripada hiking.


Jalan yang dilalui untuk menuju makam Ki Buyut Marmagati awalnya berupa jalan beton, tapi setelah beberapa ratus meter berbelok melalui jalan setapak memasuki ladang yang ditanami oleh pohon singkong dan sayur - sayuran seperti caisim atau daun bawang, pemadangan ladang yang membentuk terasering menghiasi disepanjang jalan.



Tidak berapa lama kemudian kami memasiki kawasan kebun kesemek dan sukun, namun sayang ketika kami kesana belum tiba musimnya. Kesemek merupakan buah lokal unggulan dari Desa Gunungsirah, buah ini terkenal dengan julukan "buah genit" karena lapisan bedak putih air kapurnya. Desa ini menghasilkan sekitar 700 hingga 1.000 ton buah per tahun. Namum ketika kami disana masih belum musimnya.

Setelah menempuh lima belas menit perjalanan melintasi ladang dengan deratan pohon kesemeknya, barulah memasuki kawasan hutan, vegetasi mulai rapat, pepohonan perdu seperti lamtoro mendominasi bahkan kadang ranting - ranitngnya mengahalangi jalan, kontur semakin menanjak disertai jurang di beberapa ruas yang kami lalui.

Ibu - ibu mulai mengeluh kecapean, sementara anak - anak madrasah masih bersemangat menapaki jalan setapak, bapak - bapak dan anak muda agak kesulitan mengatur nafas, meski begitu tetap saja mereka merokok.


Ditengah perjalanan saya dikejutkan oleh kedatangan serombongan monyet yang berayun ramai di pohon bambu, Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) ini seperti memperhatikan kedatangan kami, namun mereka tidak berani mendekat, lalu pergi menjauh masuk kedalam hutan dan tidak terlihat lagi.

Semakin menanjak semakin besar pula pohon - pohon yang ditemui, deretan tumbuhan pandan hutan, pakis, honje dan pohon aren menandakan kami sudah mulai berada di ketinggian 1000 MDPL, udara dingin menyentuh kulit, harum khas bunga hutan menyelusup memenuhi hidung.

Setelah melewati tanjakan yang cukup curam, tiba - tiba jalan menjadi lurus dan lebar, tanahnya bersih seperti selalu disapu dikejauhan terlihat sebuah bangunan kecil yang ternyata merupakan bangunan makam, menandakan sudah mencapai ke tujuan.


Tidak berapa lama kemudian kami melakukan doa bersama didalam, selanjutnya tentu saja makan! Ibu - ibu mendadak sibuk membongkar barang bawaan, berbagai makanan disajikan mulai dari cilok, gorengan dan buah - buahan, tapi pemeran utamanya tetap saja nasi liwet, goreng ayam, sambel cumi, jengkol teri, aneka lalab dan pete.

Makan siang saat itu terasa sangat nikmat, bukan saja karena sudah lelah mendaki, tapi juga karena kebersamaan dan suasananya yang sejuk tenang.

Dah lah, sekian aja, yang penting mah nulis ya kan?



23 comments for "Ke Gunungsirah: Hiking atau Ziarah? "

  1. waktu makan siang memang paling ditunggu ya kak :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kak,apalagi kalo makannya liwet dan rame - rame pasti nikmat dan seru

      Delete
  2. Meni jadi inget masa lalu ngaprak ka leuweung bawa kasteol
    Iya saya mah biasa udara ador ka pileuweungan, Mang... Anak gunung istilah jaman now mah
    Mang ditunggu kisah selanjutnya. Masa cuma sampai makan siang aja. Ada kisah mistis atau apa kek gitu di makam nya?
    Hehe...
    Seneng saya mah dengan kisah perjalanan seperti ini teh

    ReplyDelete
  3. Makan siang di ketinggian, setelah jalan menanjak memang menyenangkan. Apalagi pas banyak rombongannya. Makin lahap itu pasti makannya, Kak.

    Kesimpulanku, ke Gunungsirah jelas ziarah sambil hiking lah.

    ReplyDelete
  4. meskipun tulisan seadanya tapi ini dh menghibur banget buatku..baca tuntas sampe selesai hehe...
    wowww ini sie ziarah bonus hiking sie hehe,,hebat pisan ibu2 bisa sampe keatas mana bawannya ituu duhh banyak banget berat pasti ituu yang gendong2...
    dan bener banget ini makan pasti makin nikmat karena berame2 dan kehabisan tenaga gegara perjalanan menanjakny a:)

    ReplyDelete
  5. Ini privilege jadi warga desa ya Mang.
    Bisa ziarah sekalian hiking!
    Kalo orang kota, mana bisaaaa ya kaann
    Apalagi disuguhi panorama ijo2
    Bintang utama makan barengnya juga si ijo alias pete
    Niqmaaaattt mana yg kau dustakan, ceunah.

    ReplyDelete
  6. KAlau aku sih udah pasti ikutan lompaaaaaat keluar mobilll huhuhuhu takuuut... mobil nggak kuat nanjak kan bahaya banget, sudah pasti bikin deg-degan, tapi pas bagian makan nasi liwet bareng jengkol, teri, sama lalapan di atas sejelas itu bikin ngiler mendadak.
    seru juya yah Mang... definisi paket kombo, hiking dapet, ziarahnya dapet, plus bonus wisata kuliner ala gerilya!
    JAdi habis ini kemana lagi yah?

    ReplyDelete
  7. wah perjalanannya lumayan juga nih apalagi buat penderita nyeri lutut seperti saya. Trus bawaannya juga lumayan banyak yaa dan pastinya pada lahap makannya karena lelah mendaki gunung

    ReplyDelete
  8. Ini ziarah sekalian hiking kan. Tapi seru sih, dan ga terasa capek. Bisa sekalian cuci mata dan hirup udara segar.
    Apalagi rame-rame. Jadi ga terasa capek. Sampai sana, makan bersama pula. Nyata sekali kebersamaannya.

    ReplyDelete
  9. Pantesan kok saya gak pernah denger ya Gunungsirahm, ternyata daerah Darma.
    Saya pribadi lumayan sering dulu ke lereng ciremai, tapi via Linggarjati euy. Kalau lewat darma, jujur ga hafal samsek :(

    Tapi seru juga mang, biarkata masih perdebatan ziarah atau hiking, tapi saya mah dibawa enjoy aja. Toh, perjalanan menyusuri hutan dan jalan setapaknya juga seru pisan euy.
    Ke mun mudik, cuang ka cilengkrang atuh euy mang.

    Hayuu update deui blogna ka rutin mang!

    ReplyDelete
  10. Rihlah yang sangat berkesan, latihan fisiknya dapat, tadabbur alamnya dapat, yang tidak kalah penting adalah kebersamaannya. Hidup menjadi warga di desa memang seseru itu, hal-hal seperti ini yang akhirnya dirindukan ketika jauh dari kampung halaman.

    ReplyDelete
  11. Alhamdulillah ga ada foto makanan 🤣🤣🤣. Kalau ada, aku bisa2 ke kampung mu minta izin tinggal supaya bisa ikutan ziarah lain kali 🤭😄.

    Seruu banget sih mang 😍😍😍. Aku baru kali ini denger warga desanya mau supporting utk ziarah, hiking ke atas, bawa bekal piknik juga, trus lumayan banyaaaak pula hahahah. Hebaaat 👍👍👍.

    Masih peduli dengan leluhur, dan kerjasama antar warganya kuat banget 👍👍

    ReplyDelete
  12. Wah perjalanan ziarah plus hikingnya memang jauh ya Mang Alhamdulillah jadi perjalanan yang membahagiakan karena bersama-sama menikmati pemandangan alam yang indah.. ada kesemek pulaa.. ngiler sayang belum bisa dipetik..

    ReplyDelete
  13. Ini sih benar-benar paket komplit. Ziarah dapat, olahraga hiking dapat, plus bonus makan nasi liwet bareng-bareng di ketinggian yang pastinya bikin suasana makin hangat dan lalapan terasa makin nikmat. Perjuangan dorong mobil dan jalan menanjak langsung terbayar lunas!

    Tentang Ki Buyut Marmagati, mengingat beliau tokoh leluhur Cilimus, apakah ada rencana untuk menuliskan kisah atau sejarah Ki Buyut Marmagati secara lebih mendalam di postingan blog berikutnya?

    ReplyDelete
  14. Nggak tahu kenapa kalau denger kata "Cilimus" tuh kek ngrasa cute/ imyut banget nama desanya hihihi :P
    Wah ternyata desanya cukup tua bahkan memiliki sejarah, juga nama yang memang dikenal sebagai leluhur di sana yaa.
    Lha malah sekarang penasaran sama Ki Buyut Marmagati? Kenapa nggak ditulis sekalian mang?
    Jadi ini bisa dibilang trekking, bisa disebut ziarah juga, sekaligus piknik :D
    Btw ngobrolin monyet ekor panjang wah ternyata di sana juga ditemukan ya? Soalnya lagi viral banget nih belakangan soal dugaan pihak berwenang menaruh monyet ini di suatu konservasi tapi itu kedok doank buat dijual ke asing. Lupa daerah mana. Tapi semoga yang dekat rumah mamang, monyet2nya tetep lestari.
    Ooo di sana penghasil kesemek juga ya? Udah lama beut kagak makan kesemek nih hehe.

    ReplyDelete
  15. Perjalanan ke Gunungsirah ini menarik karena rasanya bukan sekadar hiking, tetapi juga perjalanan untuk mengenal sejarah dan menghormati orang-orang terdahulu.

    Dulu sekali pernah melakukan perjalanan begini pas di Bali, ke pura-pura gitu Mang. Dan selain jalurnya menantang, dan belum mulus tapi berkesan banget. Pas jalan sering kali nemu pohon-pohon dan semak-semak yang nggak ada di dataran bawahnya. Sayang dulu nggak punya kamera atau HP jadi ya nggak tahu nama tanamannya apa.. huehehehe.. :D

    Kalau udah ngerasain sekali jadi pengen bener ngerasain untuk kedua kalinya.. Dan aku bener-bener pengen tahu tanaman kesemek. Sampe sekarang cuma tahu buahnya aja dan sama foto pohon lewat google.. :(

    ReplyDelete
  16. Ini masuknya menjaga tradisi kan mang? Bagiku ini keren sih. Seru hiking plus ziarah rame-rame bareng warga desa lainnya. Seru gitu kebayangnya. Walaupun capek, tapi pemandangannya pasti indah. Anak kota nggak relate sama yang begini mang hehehhe...

    Apalagi pas makan siang bareng nikmat banget itu sih.

    ReplyDelete
  17. Saat dalam perjalanan bisa melihat yang hijau² bikin seneng pastinya, karena nuansa alamnya lebih kental. Meski sih memang kudu nanjak perjalanannya, karena ya kontur buminya begitu. Palingan sebisa mungkin yang nyetor mantap bawanya

    ReplyDelete
  18. Ini emang beneran hiking kang, meski cuman 15 menit. Lumayan bikin pinggang dan kaki kecapekan tuuh. Lha gimana, bawaannya juga bejibun. Udah kayak pindah dapur. Wkwk. Yang ikut banyak jg yak, ampe 50 org loh. Berarti ini keturunan Ki Marmagati semua termasuk Mang Duyeh?

    Seneng bgt masih ada keluarga yg menghormati leluhurnya gini. Jd mkn guyup rukun ke sesama keluarga satu buyut. Smg tradisi ini tetap dilestarikan ya.

    ReplyDelete
  19. Ini agenda double ya Mang. Ada hiking nya dan tujuan utama ziarah serta Napak tilas ke makam leluhur.

    Nah, lho, pas nanjak mobilnya sempat diam. Pasti kaget dan refleks berhamburan buat dorong. Tapi alhmdulillah teratasi dengan baik ya.

    Mantap betul bekelnya, beneran persiapan maksimal ya. Mulai dari camilan sampe nasi liwet bahkan lalapan pun lengkap. Aduhai, ini mah auto nambah terus makannya, nikmat sehabis hiking dan kebersamaan makin menyalakan suasana.

    ReplyDelete
  20. Lumayan jauh juga perjalanannya, mendaki seperti itu, pantas aja judulnya Ke Gunungsirah : hiking atau ziarah. Bawaannya cukup banyak juga. Lumayan itu yang kebagian bawa bekal.
    Hiking sambil menikmatipemandangan alam, bagus model terasiringnya auto sejuk mata melihat yang ijo-ijo gitu
    btw agak horor juga kalau sampai mobilnya ga kuat nanjak terus melorot. untungnya bis alanjut nanjak lagi ya.

    ReplyDelete
  21. Ah hiking kayaknya emang seru ya mang
    Walau harus efforts perjalannya, tapi jadi puas melihat pemandangan alam yang cantik
    Aku baru sekali sih hiking, kapan kapan mau coba lagi

    ReplyDelete
  22. Sangat unik sekalii.. Mang.
    Kalau legenda yang pernah aku denger, memang orang jaman dulu kalau mau kuat ((baca : sakti)) kudu menjauh dari keramaian. Dan biasanya kalo daerah Jawa Barat yaa.. di daerah pegunungan atau situ ((danau)).

    Kaya pas ke Situ Gede, Tasikmalaya.
    Aura mistisnya tuu.. makin terasaa ketika kita tau ceritanya yang turun temurun itu.

    Perjalanan ziarah ke Gunungsirah bikin kedekatan dengan warga semakin terjaga yaa, mang.. saling jaga dan saling nge-botram, nikmaatt~

    ReplyDelete