Gedung Perundingan Linggarjati I Saksi Sejarah Perjuangan Kemerdekaan Indonesia

Linggajati adalah sebuah Desa di kaki Gunung Ciremai, Desa Linggajati berada di wilayah Kecamatan Cilimus, Kabupaten Kunigan, Provinsi Jawa Barat. terletak pada ketinggian 650 MDPL dengan suhunya yang sejuk khas pegunungan. Desa linggajati mudah dijangkau, dari Kota Cirebon dapat ditempuh dengan waktu 45 menit dan dari Kota Kuningan sendiri dapat ditempuh dengan waktu 30 menit.

Selain merupakan Daerah Wisata dan pintu gerbang jalur pendakian Gunung Ciremai, di Desa Linggarjati juga berdiri sebuah bangunan yang pernah menjadi salah satu tempat penting dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia, yakni Gedung Perundingan Linggarjati (Museum Perundingan Linggarjati).

Sejujurnya saya sendiri yang tinggal di Desa masih satu Kecamatan dengan Desa Linggarjati jarang sekali sengaja berkunjung dan masuk ke Museum Perundingan Linggarjati ini, tapi demi berbagi cerita dengan sahabat pembaca semua saya coba gali dan rangkum cerita historis yang saya dapat dari narasumber dan bahan bacaan yang ada di Museum Perundingan Linggarjati.



Baca juga : Latar belakang terjadinya Perundingan Linggarjati.



Dari Sebuah Gubuk Menjadi Saksi Sejarah

Gedung Perundingan linggarjati mempunyai perjalanan panjang kepemilikannya, pada awalnya gedung ini hanyalah sebuah gubuk milik Ibu Jasitem di tahun 1918, konon Ibu Jasitem ini adalah seorang janda yang tinggal sendirian yang menempati gubuk ini. Saat itu, lingkungan di sekitarnya masih di kelilingi hutan dan rerumputan liar.

Pada tahun 1921 Ibu Jasitem  dinikahi oleh seorang pengusaha kaya berkebangsaan Belanda yang dikenal masyarakat setempat dengan sebutan Tuan Tersana atau sering disebut Tuan Marghen/Marger, lalu gubuk sederhana tersebut dirombak oleh Tuan Tersana menjadi bangunan semipermanen yang lebih layak sebagai tempat peristirahatan mereka.

Pada tahun 1930-an, bangunan tersebut dijual kepada pengusaha Belanda lainnya, Jacobus van Os, yang kemudian dibangun menjadi gedung permanen untuk tempat tinggal.




Pada tahun 1935 Gedung ini dikontrak oleh orang Belanda  dan dijadikan hotel bernama Rustoord.

Lalu ketika Jepang datang menjajah di tahun 1942 gedung ini diambil alih dan diganti namanya menjadi Hotel Hokay Ryokan.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan Tahun 1945, hotel ini diberi nama HOTEL MERDEKA

Pada tanggal 11 hingga 15 November 1946, gedung ini akhirnya menjadi tempat berlangsungnya Peristiwa Besar: Perundingan Linggarjati (1946), gedung ini menjadi pusat perhatian internasional. Di sinilah para delegasi bertemu untuk merumuskan status kemerdekaan Indonesia. Perundingan ini melahirkan Persetujuan Linggarjati yang ditandatangani secara sah pada 25 Maret 1947. Meski isinya sempat menuai pro dan kontra karena Belanda hanya mengakui wilayah RI secara de facto atas Jawa, Madura, dan Sumatera, momen ini adalah langkah krusial bagi pengakuan kedaulatan Indonesia di mata dunia.

Setelah peristiwa besar itu Gedung ini masih terus berubah fungsi mulai dari menjadi Markas Belanda saat terjadi Agresi MIliter ke II pada Tahun 1948 - 1950 setelah itu sempat juga menjadi Sekolah Dasar Negeri Linggajati pada Tahun 1950 - 1975.

Tahun 1975 Bung Hatta dan Ibu Sjahrir berkunjung dengan membawa kabar bahwa gedung ini akan dipugar, tetapi usaha ini hanya sampai pembuatan bangunan sekolah untuk Sekolah Dasar Negeri Linggarati.

Baru pada tahun 1976 Gedung ini oleh pemerintah diserahkan kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan untuk di jadikan Museum.



Menjelajahi Isi Museum

Gedung Perundingan Linggajati termasuk bangunan megah saat itu, bergaya Art Deco khas bagunan Belanda, ketika Peristiwa Perundingan terjadi hinga saat ini masih dipertahankan dan dirawat keaslianya, pada intinya ruangan di gedung ini dibagi menjadi beberapa bagian:

Ruang Perundinganruangan utama yang digunakan para delegasi untuk melakukan perundingan.

Kamar Tidur Tokoh, Kamar yang pernah ditempati oleh Sutan Sjahrir dan delegasi lainnya, lengkap dengan furnitur asli.

Dokumentasi Foto, Kini dinding-dinding museum dihiasi dengan foto-foto hitam putih yang menggambarkan suasana ketegangan dan keakraban selama perundingan berlangsung.

Halaman Luas denganTaman yang asri di sekitar gedung memberikan suasana tenang, kontras dengan sejarah "panas" yang pernah terjadi di dalamnya.




Berikut Beberapa Informasi Penting Jika Akan Berkunjung:

  • Lokasi: Desa Linggarjati, Kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.

  • Titik Koordinat: -6.88093052411501, 108.47476182039283

  • Link Koordinat: https://maps.app.goo.gl/H96bCTPZKPVg55iJ6

  • HTM: Rp. 10.000,- (umum) - Rp. 5000 (pelajar/anak) 

  • Buka setiap hari, jam operasional: 07.30 - 17.00 dengan Waktu Kunjungan Terbaik di pagi hari, agar bisa menikmati udara pegunungan yang segar sekaligus menjelajahi sejarah tanpa terburu-buru.

  • Rute Transportasi jika menggunakan mobil pribadi atau bis rombongan lewat jalan TOL dari arah Jakarta belok kanan atau dari arah Jawa Tengah belok kiri keluar melalui pintu Tol CIperna, lalu ikuti ruas jalur utama jalan nasional menuju arah Kuningan, ketika masuk perbatasan Kuningan tetap berada di jalur Kuningan-Cirebon (jangan belok kiri ke arah jalan baru) setelah lewat Pasar Cilimus sekitar 1KM belok ke arah kanan (banyak plang penujuk arah).

  • Apabila menggunakan transportasi umum misalnya dari Stasiun Cirebon atau Terminal Bis Cirebon saran saya mending menggunakan Grab car atau Ojol supaya lebih praktis.

  • Jika membutuhkan petunjuk arah, info penginapan atau Trip Advice area Kunigan dsk. bolehlah hubungi saya. hehe

Mengunjungi Gedung Linggarjati adalah cara terbaik untuk memahami bahwa kemerdekaan Indonesia tidak hanya diraih melalui kontak senjata, tetapi juga melalui ketajaman pikiran dan keberanian di meja perundingan.

"Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya, termasuk pahlawan diplomasi yang berjuang di balik meja kayu Linggarjati."



 





22 comments for "Gedung Perundingan Linggarjati I Saksi Sejarah Perjuangan Kemerdekaan Indonesia"

  1. Manggg ... Salam kenal dari saya ya.
    Pas baca ini kok tahu ada nama Jacobus Van Os inget salah satu tokoh di novel yang baru aja kutamatin. Namanya sama² Jacobus beda belakangnya aja dan lokasi tempat tinggalnya pun agak² mirip (luas, hijau, dikelilingi pemandangan gunung).

    Suka banget kalau ada yang eksplore wisata sejarah gini. Apalagi bangunannya tuh seringkali bangunan lama yang punya daya tarik sendiri. Kata salah satu kawan yang hobi pepotoan bangunan lama: bangunannya kayak mengeluarkan aura tersendiri (bukan mistis).

    Dan batu tahu juga kalau ternyata bangunan untuk perundingan linggarjati pas agresi militer, jadi mueseum sekarang. 🥰🥰

    ReplyDelete
  2. Maasyaa Allah masih ada dan kokoh ya
    Aku masih ingat dulu gara gara diminta sebutkan isi perjanjian Linggarjati ini disuruh keluar kelas, tidak hafal haha
    Ternyata memang sejarah itu kalau dipelajari dengan cara menyenangkan seperti ini lebih nyantol daripada baca bukunya saja

    ReplyDelete
  3. Duuuuh baru tahu kalau ini dekat Ama Kuningan mas. Waktu trakhir staycation ke Kuningan, malah ga mampir sini.

    Pastinya inget pernah belajar ttg perjanjian Linggarjati, walaupun isinya lupa hahahaha

    JD bangunannya masih terawat yaaa. Jadi tahu juga dulunya berbentuk gubuk, bahkan sampai pernah jadi hotel 👍👍.

    Aku suka sih wisata sejarah . Nanti kalau ke Kuningan lagi, bisa mampirin tempat ini sambil ajak anak2.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mbak fan nanti kalo ada waktu, mampir kesini mbaaak. Ini memang salah satu wisata yang cukup underrated di Kuningan. Mungkin karena minat persejarahan dan permuseuman warga kita mah masih kurang kali ya, hahahaha.

      Delete
  4. Sepakat, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya, tidak hanya yang berjuang angkat senjata tetapi juga yang berunding di meja perundingan. Pemikiran yang tajam untuk kemerdekaan negeri
    dari sebuah gubuk sederhana menjadi bangunan bersejarah negeri ini.

    ReplyDelete
  5. Ahhhh miheulaaan euy si Mamang mah nulis ninggarjatinya. Saya pas kemaren mudik juga mampir kesini mang, gara-gara sebelumnya mampir ke J&J dan gagal total. Asli lah, teu rekomen pisan -_-
    Ujung-ujungnya ya mampir ke Lingarjati sini. Lebih enak, adem, terus sepi. Gatau kenapa ya, padahal musim libur lebaran, tapi gedung linggarjati mah tetap saja sepi seperti biasanya. Serendah itukah minat warga kita terhadap sejarah?
    Cuma agak kaget euy sekarang mah harga tiketnya naik ya. Lupa waktu itu teh berapa ya seorang. Kalo gasalah dari 2 ribu sekarang jadi 10 ribu. Lumayan oge.

    Dari kembangan naik cipaganti
    Biar lancar berangkatnya jam dua
    Banyak kenangan di sudut linggarjati
    Syuting film, dan saya jadi bapak tua

    ReplyDelete
  6. Gaya khas yang masih terpelihara, jadi saksi sejarah buat siapa saja yang ingin berkunjung. Apalagi buat daku dan yang lain, yang nota bene cuma tahu Perundingan Linggarjati dari pelajaran sejarah hehe.
    Siip Mang inpohnya, terlebih ada caranya pula jalan ke sana kalau pakai transum

    ReplyDelete
  7. Awal mwmbaca, saya bergumam, oh perjanjian Linggajati dulu di Desa Linggajati? Ternyata Memang Desa Lingarjati ya, Mang.
    Dan karena letaknya diantara Cirebon dan Kuningan, Jadi pengunjung museum ini bisa datang dari kedua wilayah itu.
    Saya jujur suka bangunan belanda yang tinggi dan kokoh. Termasuk gedung perundingan Linggarjati yang sekarang jadi museum ini yang punya sejarah besar bagi Bangsa Indonesia. Dan kerennya, sampai sekarang gedungnya masih terawat dengan baik. berkunjung ke Museum Linggarjati, tidak hanya menambah pengetahuan, tapi bisa mneikmati pemandangan alamnya dengan udara yang sejuk. Semoga saya bisa segers ke sana. Aamin.

    ReplyDelete
  8. Baca ini jadi ingat pelajaran sejarah zaman sekolah dulu. Ternyata seperti ini wujudnya di masa kini. Tanahnya luas banget ya... Sejuk gitu.

    Saya belum pernah ke Kuningan pak. Siapa tahu suatu hari berkunjung ke sana, bisa lha mampir.

    Saya suka museum-museum di Indonesia ini tiketnya murah. Tapi banyak yang bisa dilihat dan dipelajari.

    ReplyDelete
  9. kebyng pas jaman dulunya walau dikata dlu bangunan ini mungkin bisa di bbilang kecil tpi saksi atas perjuangan Bumi pertiwi kita ini. Perjanjian Linggar Jati yg aku ingat ketika belajar yaitu nama sutan sjahrir dan m roem , ini melekat sampai begitu ingatnnya
    1 poin yang mesti kita pahami pada jaman nnya para pahlawann kita benar2 mengusahakan Indnonesia inni merdeka seutuhnyaa

    ReplyDelete
  10. Lingkungannya rapi dan bersih, kok bisa ya museum ini kurang terekspos. Padahal museum dikenal sebagai tempat bersejarah yang menyimpan banyak memori dan cerita selama perjuangan kemerdekaan

    ReplyDelete
  11. Kalimat penutup yang sangat epic sekali. Para pahlawan kemerdekaan memang tiada duanya, kecerdasan dan upaya mereka luar biasa banget.

    Linggarjati, terkenal sebagai salah satu rute jalur pendakian menuju Ciremai.

    Ketika masih tinggal di Majalengka Cirebon, pernah diajakin Uwa buat berkunjung kesini, saat itu saya masih SD. Sudah lama sekali, next mesti mampirin lagi nih buat melihat banyak peristiwa menakjubkan dari awalnya gubuk, jadi bangunan art Deco khas Kolonial dan menjadi tempat bersejarah pula.

    Salutnya, biaya masuk terjangkau ya. Para pelajar dan kita-kita pun bisa sering berkunjung ke Gedung Perundingan Linggarjati (Museum Perundingan Linggarjati).

    ReplyDelete
  12. Dari gubuk ke gedung perundingan Linggarjati benar-benar berliku bsnget. Keknya pas era gubuk ke bangunan semi permanent tuh storynya romantics banget. Janda bertemu pengusaha. Hehehe

    ReplyDelete
  13. Wah baru tahu loh cerita asli asal mula gedung ini. Ternyata bermula dr rumah kecil seorang ibu dan beralih fungsi dr rumah pribadi hingga hotel. Sungguh transformasi yang luar biasa hingga menjadi tempat perundingan internasional saat itu.

    Bener2 menjadi pengalaman berharga bs melihat gedung Linggarjati meski blm bs dgn kepala sndiri. Smg next time bs ke Kuningan supaya bs melihat kemegahan dan keasrian bangunan bersejarah ini ya mang.

    ReplyDelete
  14. Jas Merah jangan sekali² melupakan sejarah.
    Makasiii udah explore lokasi Linggarjati dan kasih kita pengalaman "online traveling"
    karena yha memang ini spot yg sebaiknya dipahami oleh semua generasi

    ReplyDelete
  15. tempatnya luas banget ya, kak dan ada tamannya juga. kalau untuk tamannya itu juga boleh buat rekreasi atau foto-foto gitukah?

    ReplyDelete
  16. Menurutku ini jadi pengingat juga bahwa tempat-tempat seperti ini penting banget untuk terus dikunjungi dan dikenang, supaya kita nggak lupa bahwa kemerdekaan yang sekarang kita nikmati itu melalui proses panjang termasuk lewat meja perundingan, bukan cuma perjuangan fisik.

    ReplyDelete
  17. Jadi keinget zaman sekolah ngafalin kapan perjanjian Linggarjati diselenggarakan. Tapi karena cuma menghafal jadinya nggak bener2 belajar sejarah dengan benar haha :P
    Ternyata Linggarjarti itu nama daerah ada dekat Gunung Ciremai Jawa Barat yaa.
    Lokasi perundingannya juga dijadikan museum, wah mantul, alhamdulillah masih terawat dengan baik gedungnya.
    BTW kadang suka berandai2, seandainya Sutan Syahrir menjadi Presiden pertama RI apakah arah negara ini akan jauh berbeda ketimbang dinahkodai bapak2 yang terkenal tukang kawin itu ya hahaha kidding :P
    Semoga nanti kalau ke Cirebon bisa mengunjungi museum ini. Ternyata cukup mudah aksesnya karena ada kendaraan online juga di sana dari stasiun yaa. Terima kasih infonya :D

    ReplyDelete
  18. Aku suka sekali kalau belajar sejarah dibalut dengan hal-hal yang kekinian. Jadi kesannya tuh.. sejarah INdonesia mudah dipahami dari timeline tahun ke tahunnya.
    Aku dul kecil uda pernah ke Museum Linggarjati ini.. tapi sekarang yang terkini, belum pernah laggii.. karena dulu sempet 3 tahun di Cirebon.

    Pingiiinn.. ke Gedung Linggarjati laggii untuk mengenalkan perjuangan para pahlawan kita kepada anak-anak sekarang. Kudu banget mereka tahu karena sejarah ini menentukan kemana arah berpikir anak sekarang yang cenderung bersantai-santaaii..

    ReplyDelete
  19. Saya sering banget lewatin jalan ini kalau lagi mudik lebaran. Apalagi saat anak saya mondok di salah satu ponpesn di daerah Manis Kidul Kuningan pasti pas pulang dan pergi lewatin sini, karena sekalian nengokin ibu saya di Majalengka. Enak tuh disini buat botram bareng-bareg. Jujur kalau melihat ke gedung bagian dalamnya malah belum hehehe,,,,jadi tau deh kek gimana gedung Linggarjati itu dari postingan mamang.

    ReplyDelete
  20. Aku membayangkan si tanah itu sendiri melihat banyak peristiwa dengan berlarinya waktu. Bagaimana sebuah gubuk dengan pinangan sang tuan menjadi setengah bangunan yang pada akhirnya menjadi tempat perjanjian yang tidak akan pernah terlupakan bagi sejarah bangsa Indonesia.

    Dan juga kalau aku langsung melihat kesana bakal banyak bengongnya, melihat bangunan dengan lapangan luas seperti foto diatas sesuatu yang menyegarkan hati dan pikiran.

    ReplyDelete
  21. Ngebaca sejarah gedung ini dari gubuk milik Ibu Jasitem hingga jadi saksi diplomasi bangsa bikin saya makin kagum. Ternyata kemerdekaan kita memang diperjuangkan lewat banyak cara, ya, termasuk adu strategi di meja perundingan.
    Suasananya yang sejuk di kaki Gunung Ciremai pasti bikin betah berlama-lama belajar sejarah di sana. Terima kasih sudah berbagi perspektif lokal yang otentik. Jadi makin penasaran ingin mampir dan merasakan langsung aura "panas-dingin" sejarah di Linggarjati.

    ReplyDelete